PENGRAJIN PISAU DARI KARANGMALANG

Oleh : admin
21 Maret 2017
395
  
data-layout="button_count" data-action="like" data-show-faces="false" data-share="false">

KARANGMALANG - Beragam potensi dari masing-masing daerah di Kabupaten Sragen memang sangat menarik, termasuk kerajinan pisau yang satu ini. Sudah sejak  bertahun tahun yang lalu, Widodo, warga Rt 5 Purwosari, Jurangjero, Kec. Karangmalang Sragen menjadi pengrajin pisau. Dengan modal awal sekitar 3 juta rupiah, kini Widodo mampu memutar uang 1,5 juta rupiah perhari.

        Dibantu dengan 3 orang pekerja, produksi pisau mampu mencapai 4 kodi perhari. Jenis produk yang dihasilkan pun beragam, terdapat dua jenis kelompok besar, yaitu pisau jenis Cor dan pisau jenis Selendang. Untuk pisau jenis Cor, produk yang dihasilkan antara lain Sabit, Kapak, Parang, sedang untuk jenis selendang, produk yang dihasilkan adalah bermacam-macam bentuk pisau dapur.

       Bahan baku untuk pisau-pisau tersebut didatangkan khusus dari luar daerah. Untuk bahan pisau Cor, Widodo mengambil dari Klaten, sedangkan pisau Selendang didatangkan dari Kudus. Pisau Cor berasal dari bijih besi yang kemudian dicetak sesuai dengan bentuk yang diinginkan, sedangkan pisau selendang berasal dari gergaji bekas.

        Proses pembuatan pisau sendiri tidaklah mudah, untuk membuat pisau selendang jenis pisau dapur, langkah pertama yang dibuat adalah pembentukan dengan mengiris lempengan bahan, kemudian pemberian tangkai, biasanya tangkai dibuat dari kayu bekas usuk. Setelah itu dilakukan penggerindaan, kemudian penghalusan atau pengasahan untuk ketajaman pisau, dan terakhir pemberian minyak agar tidak mudah berkarat.

        Banjirnya pesanan memang tergantung musim, bila musim panas permintaan dan penjualan pun bagus, dan bila musim penghujan, permintaan pun akan berkurang. Hal ini terjadi karena pemasaran pisau-pisau ini kebanyakan oleh pedagang keliling, yang akan maksimal berjualan di musim panas. Inilah kendala yang dihadapi, yaitu pemasaran dimusim penghujan yang sangat sulit. Kami memproduksi dua jenis kualitas, meskipun kualitas pertama sangat bagus mutunya, namun karena harganya yang lebih mahal jadi pemasarannya sulit, pembeli kebanyakan memilih kualitas nomor dua, karena harga yang murah, ungkap Widodo.

       Untuk pemasaran, Widodo tak mudah berputus asa. Ia telah mengenalkan pisaunya hingga ke Sulawesi dan Sumatera, sedang untuk Jawa, pemasarannya hingga Semarang dan Surabaya.

       Keuletan Widodo membuahkan kesuksesan, perputaran uang untuk usaha kerajinan pisaunya ini bila musimnya bagus dapat mencapai 2 juta rupiah perhari. Kesuksesan ini sudah mulai dilirik oleh warga sekitar, buktinya sudah ada 7 pengrajin sejenis untuk satu Rt saja.


komentar
tulis komentar anda

Create Account



Log In Your Account