"Rame Ing Gawe, Sepi Ing Pamrih"

Oleh : admin
11 Juli 2017
89

Mengurus rumah sendiri selama libur, berbagi pekerjaan dengan keluarga selalu menjadi ritual yang memberi inspirasi. Jadi kalau saya ditanya,”Dok, libur kemana saja?” Sulit jawabnya.
Saat orang berbondong-bondong meninggalkan sarangnya, justru saya sedang merawatnya. Menggunakan sapu kebun yang terbuat dari lidi itu dan mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan, ternyata membutuhkan keterampilan tersendiri.
Belum lagi mengangkutnya agar tidak berceceran masuk ke dalam kantong pembuangan. Sebagai catatan, kesulitan bertambah dengan munculnya tiupan angin.
Saya masih ingat, jaman sekolah dahulu – kepala sekolah jika menghukum muridnya selalu menggunakan cara-cara kreatif, termasuk disuruh membubuhi cap sekolah di ujung semua kertas tulis kosong yang akan dipakai untuk ujian.
Hasil cap harus sempurna. Dan ternyata itu menyengsarakan. Pekerjaan petugas administrasi yang biasanya dianggap sebelah mata dan disebut sepele. Bahkan terlihat gampang karena ibu admin melakukannya dengan kecepatan supersonik, tahu-tahu satu rim sudah dicap semua.
Kedua contoh di atas adalah pekerjaan terampil yang jauh dari ucapan terimakasih apalagi mendapat pujian.
Mengomel pun hanya pantas didengarkan diri sendiri jika tumpukan daun tertiup angin atau hasil cap miring tidak rata. Hal yang tak mungkin nampang di Instagram, saking tak pentingnya.
Jika urusan kebun dan dapur adalah jatah saya, menyapu dan mengepel wilayah pria berotot, maka area cuci diambil si gadis.
Tidak banyak perempuan yang belum menikah saat ini, paham caranya membersihkan pantat panci yang menghitam tanpa perlu menyisakan goresan atau membeli bubuk ajaib di toko mahal, atau menyetrika licin seprai berujung karet yang super lebar dan melipatnya sempurna.
Sekali lagi, hal yang tidak ‘instagramable’ bahkan ditertawakan karena dengan punya uang banyak, siapa pun bisa menggaji orang melakukan semua hal itu.
Sayangnya, semua gawe di rumah sendiri yang begitu banyak dikerjakan saat libur tak ada yang memberi imbalan. Jika imbalannya berupa pujian atau rupiah.
Tapi, saat menyeka peluh sambil menyeruput teh melihat hasil kerja keluarga serumah, ada rasa syukur dan tenang yang tak akan pernah bisa dirasakan oleh mereka yang belum pernah melakukannya.
Ketika mencegah dan merawat terasa sulit dilakukan
Dalam lingkup lebih kecil, hal yang sama terjadi dengan merawat tubuh rupanya. Baru saja saya menghabiskan jam makan siang sambil mengobrol bersama sang belahan hidup. Dia menyitir lagi cerita soal sinshe kuno Cina terkenal yang entah kenapa kali ini kisahnya terdengar lebih ‘mak-jleb’. Mungkin karena lebih mirip apa yang secara profesional saya lakukan sehari-hari.
Alkisah, sinshe kuno Cina tersebut sebenarnya tiga bersaudara. Suatu hari ia ditanya seseorang, ”Dari kalian bertiga, siapakah yang paling pintar?” Sambil menarik nafas, ia menjawab,”Kakak tertua saya. Dia mampu membuat orang sehat tetap bertahan sehat, tapi sayangnya ia tidak terkenal. Jarang yang mau mengunjunginya.”
Yang bertanya kian penasaran, ”Lalu siapa yang nomor dua pintar?” Sang sinshe menjawab dengan suara berat,” Kakak di atas saya. Dia bisa tahu orang bakal sakit dan mencegahnya agar tidak sampai jatuh sakit, tapi dia pun tidak dikenal banyak orang.”
Yang bertanya langsung protes, ”Apakah kau sebagai sinshe terkenal mengatakan diri bodoh?” Sinshe terkenal tersebut berkata pelan diplomatis, ”Aku menjadi terkenal, karena justru orang yang sakit berobat lalu sembuh”.
Tidak ada yang mengatakan salah (apalagi tidak pintar) untuk menjadi terkenal, karena mengobati orang yang sakit hingga sembuh.
Sangat fenomal bahkan instagramable untuk melihat metamorfosis orang yang terkulai sakit bisa naik kuda dengan gagah lagi.
Imbalan untuk kemampuan hebat itu pun mengalir bak rejeki tumpah ruah. Bahkan ada yang menetapkan tarif yang fantastis.
Bukan lagi sekadar ungkapan wujud syukur dari yang ditolong. Hingga belakangan ini ada istilah,”Jadi orang miskin, enggak boleh sakit.” – itu karena saking mahalnya biaya berobat.
Mencegah, merawat, memang bukan pekerjaan favorit. Jauh dari kata ‘nge-fans’. Bahkan ritual yang menjemukan itu kerap disebut menghabiskan waktu (karenanya banyak yang membuat jalan pintas).
Padahal, alam semesta menganyam hidup semua makhluk dengan ritual – yang tak pernah berubah.
Matahari terbit di timur, tenggelam di barat. Satu hari setara dengan 24 jam. Seminggu itu lamanya 7 hari, dan seterusnya.
Nah, jika birokrasi bisa dipangkas, teknologi memungkinkan perjalanan dipercepat, komunikasi dipermudah dengan layar bicara, mencuci pun digantikan mesin, lalu mengapa masih ada orang yang bilang tidak punya waktu memasak? Tidak punya waktu berjemur? Tidak punya waktu menyusui? Tidak punya waktu olah raga? Tidak punya waktu bercanda dengan belahan hidup? Tidak punya waktu membaca buku bagus?
Layanan antar makanan cepat saji faktanya hanya untuk mengisi perut dengan kedoyanan lidah, bukan mencegah tubuh dari penyakit.
Tablet vitamin hanya untuk iming-iming nurani, seakan sudah menambah ‘daya tahan’, dot susu hanya untuk membuat si kecil merasa aman semu.
Padahal, kita hidup hanya sekali. Ada hal-hal yang sudah terlewatkan tak mungkin kembali. Termasuk setia terhadap hal-hal kecil, ribet dan rutin di mana pamrih tak bisa dituai – tapi dari situ justru hidup memberi makna yang amat besar. Hal-hal pintar yang tidak terkenal. Non instagramable.


EditorBestari Kumala Dewi
DR.DR.TAN SHOT YEN,M.HUM.
http://lifestyle.kompas.com


komentar
tulis komentar anda

Create Account



Log In Your Account