Sat, 1 November 2014
    
 
 
  Untitled Document
CARI BERITA

Masukkan kata :

ARSIP BERITA

  • November, 2014
  • Oktober, 2014
  • September, 2014
  • Agustus, 2014
  • Juli, 2014
  • Juni, 2014
  • Mei, 2014
  • April, 2014
  • Maret, 2014
  • Februari, 2014
  • Januari, 2014
  • Desember, 2013

  • TOPIK BERITA

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Iptek
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Hiburan

  • BERITA DAERAH

  • Sragen
  • Karangmalang
  • Masaran
  • Kedawung
  • Sidoharjo
  • Gondang
  • Sambungmacan
  • Sambirejo
  • Ngrampal
  • Sumberlawang
  • Gemolong
  • Miri
  • Kalijambe
  • Plupuh
  • Tanon
  • Mondokan
  • Tangen
  • Gesi
  • Sukodono
  • Jenar


  • Disponsori oleh :




     

    Halaman Berita


    Kalijambe


    [ 07/07/2007, 20:23 WIB ]
    KALIJAMBE KEMBANGKAN JERUK BESAR


     
    Salah satu jenis tanaman yang lazim ditanam di halaman rumah adalah jeruk besar (Citrus celebia). Disebut besar karena ukurannya memang lebih besar dibanding jeruk kebanyakan. Jeruk besar yang juga disebut jeruk bali sebetulnya sudah tak asing lagi buat kita. Dulu, kulitnya sering dipakai sebagai bahan permainan anak-anak, misalnya mainan gerobak, mobil-mobilan, atau rumah-rumahan.
    Jeruk besar tumbuh subur dan berproduksi baik di dataran rendah. Tanaman ini membutuhkan tempat yang cukup terbuka atau langsung mendapat sinar matahari. Tanaman ini juga cukup adaptif pada sembarang tanah, kecuali tanah liat yang air tanahnya dangkal. Ia tak betah ditanam di tanah jenis ini, bisa-bisa malah mati karena akarnya terendam air dan aerasinya jelek. Salah satu daerah di Kabupaten Sragen yang mengembangkan tanaman jenis ini adalah Kecamatan Kalijambe. Seperti diungkapkan Camat Kalijambe, Tugino, S.Sos bahwa Kecamatan Kalijambe telah mengembangkan tanaman jenis ini.

    Prospek pemasarannya jeruk semacam ini cukup baik, dan yang perlu mendapatkan perhatian adalah bagaimana meningkatkan produksinya melalui peningkatan kualitas bibit. Penanaman jeruk jenis ini, baik yang berskala kecil maupun besar (berorientasi agribisnis), harus diawali dengan pembibitan yang baik. Keberhasilan pengusahaan tanaman jeruk ditentukan oleh tersedianya bibit bermutu, yaitu bibit yang bebas penyakit, murni, identik dengan induknya, tidak cacat serta penangkarannya telah dilakukan dengan benar dan tepat melalui program sertifikasi bibit. Bibit yang baik adalah bibit yang berasal dari okulasi dan sambung pucuk. Bibit tersebut merupakan gabungan bibit semai dan cabang entris dari varietas unggul, yang produksi dan mutu buahnya baik. Dengan bibit asal okulasi dan sambung pucuk akan diperoleh tanaman yang berakar kuat, tumbuhnya subur,buahnya banyak dan mutu buahnya tinggi.

    Manfaat jeruk jenis ini banyak sekali, bagian dalam kulit buah yang berwarna putih dapat dijadikan manisan setelah dibuang bagian kulit luarnya yang banyak mengandung kelenjar minyak. Di Vietnam, bunganya yang harum digunakan untuk membuat parfum. Kayunya dimanfaatkan untuk gagang perkakas. Pohon jeruk bali yang kualitas buahnya rendah pun masih tetap dipelihara untuk dimanfaatkan daun, bunga, buah, dan bijinya untuk obat batuk, demam, dan gangguan pencernaan.

    Jeruk besar atau jeruk bali ini dapat tumbuh di sembarang tempat. Namun, tanaman ini akan memberikan hasil optimum bila ditanam di lokasi yang sesuai. Ketinggian tempat yang sesuai untuk tanaman ini yaitu dataran rendah sampai 700 m di atas permukaan laut, untuk Kabupaten Sragen yang mempunyai ketinggian 109 m diatas ketinggian permukaan laut sangat cocok untuk jeruk besar ini. Sedangkan yang ditanam di atas ketinggian 700 m diatas permukaan laut rasa buahnya lebih asam. Suhu optimum yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya berkisar antara 25-30° C. Sedangkan sinar matahari harus penuh agar produksinya optimum. Tanah yang disukai tanaman jeruk ialah jenis tanah gembur, porous, dan subur. Kedalaman air tanahnya tidak lebih dari 1,5 m pada musim kemarau dan tidak boleh kurang dari 0,5 m pada musim hujan. Tanah tidak boleh tergenang air karena akar akan mudah terserang penyakit. Tanah yang baik untuk tanaman jeruk harus ber-pH 5-6. Curah hujannya yang cocok berkisar antara 1.000-1.200 mm per tahun dengan kelembapan udara 50-85%.

    Seperti diungkapkan oleh Tugino, Camat Kalijambe, jeruk besar ini telah dikembangkan di desa Wonorejo dan Keden, hasilnya sangat menjanjikan. Di desa Wonorejo kurang lebih ada 30 petani yang mengembangkan tanaman ini sedangkan di desa Keden ada sekitar 132 petani. Selain itu tanaman ini juga dikembangkan di desa Bukuran. Di Asia Tenggara, jeruk bali dipelihara di pekarangan atau di kebun jeruk yang ditumpangsarikan atau monokultur, contoh yang terakhir ini dijumpai di Thailand dan Filipina. Pencampuran berbagai jenis jeruk akan menyulitkan perlindungan tanaman di kebun jeruk. Pisang sebagai tanaman tumpang sari dapat menjadi penahan angin, naungan, dan sumber penghasilan awal. Di Thailand, pohon pinang (Areca catechu) juga dijumpai sebagai tanaman tumpang sari, atau sebagai tanaman pinggiran, sepanjang selokan, yang di lahan itu jeruknya sendiri ditanam pada guludan yang ditinggikan (di Provinsi Nakhon Prathom).

    Tugino menambahkan bahwa didaerahnya budidaya jeruk besar sudah dua kali panen. Meski baru rintisan pemasarannya sampai keluar kota Sragen, bahkan pedagang dari luar kota banyak yang datang untuk membelinya. Selain jeruk bali, Tugino mengungkapkan, bahwa di Kecamatan Kalijambe juga dikembangkan tanaman kelengkeng, rencananya bulan Agustus nanti akan diadakan penanaman kelengkeng jenis pingpong. Pengembangan tanaman ini di desa Tegalombo. Peluang dan prospek pengembangan kelengkeng di masa datang cukup baik. Buah sebesar biji kelereng ini daging buahnya berwarna agak bening dan banyak mengandung air. Konon, orang dari negeri Jiran akrab menyebutnya ‘mata kucing’, sedangkan di lidah orang Indonesia buah berkulit coklat ini lebih akrab dengan sebutan buah kelengkeng. Baik biji kelengkeng maupun daging buahnya, dapat digunakan sebagai penyembuhan penyakit. Sedangkan orang Cina memberi nama buah asli Asia ini long yan rou, yang artinya mata naga yang tajam. Kelengkeng juga disebut buah euforia, mungkin karena dapat membuat orang berenergi. Merupakan buah musiman dengan rasa yang sungguh manis, cocok digunakan sebagai campuran minuman, karena terasa segar dikonsumsi saat hari terasa panas.

    Kelengkeng berisi phenolic terutama yang terbanyak pada bijinya, seperti asam gallic, corilagin, dan asam ellagic, yang mengindikasikan adanya kandungan antioksidan.

    Bijinya juga mengandung saponin, tanin, dan lemak, sehingga kerap dipakai sebagai bahan pembuat sampo dan untuk mengatasi keringat berlebihan. Juga digunakan untuk menghentikan perdarahan. Di Cina, biji kelengkeng dibuat minyak.

    Daging buahnya tercatat dipakai secara tradisional untuk obat sakit perut (alat pencernaan), mengusir demam dan membunuh cacing perut, juga penangkal racun. Air seduhan daging buah yang dikeringkan merupakan penyegar dan obat untuk insomnia, kelelahan kronis, perasaan lemah, tidak dapat konsentrasi, tidak nafsu makan.

    Di Vietnam, biji kelengkeng digunakan untuk mengobati luka akibat gigitan ular karena diyakini dapat menyerap bisa ular. Juga kerap digunakan untuk mengatasi luka bakar. Daun dan bunganya di Cina dijual sebagai herbal.

    Daunnya mengandung quercitrin dan quercetin, yang memiliki sifat antioksidan dan antivirus, sehingga bisa dimanfaatkan untuk mengobati alergi, kanker, diabetes, dan penyakit kardiovaskuler.

    Buah ini banyak mengandung sukrosa, glukosa, protein, lemak, dan asam tartaric yang merupakan sumber energi yang baik. Rasanya sangat manis dan berguna untuk meningkatkan stamina, terutama sehabis sakit. Kelengkeng sangat baik untuk memenuhi kebutuhan energi bagi wanita hamil yang lemah atau setelah melahirkan. Bila dimakan dalam kondisi segar juga bisa mengurangi demam. Memakan buah ini secukupnya secara teratur dapat menambah nafsu makan, mencegah anemia, dan pemutihan rambut dini. Namun, jika makannya terlalu banyak akan membuat tubuh panas karena kelebihan energi.

    Sumber : Bagian Humas


     

     
     
     

    Powered by Team PDE Sragen © 2003, untuk sragenkab.go.id
    Situs ini akan lebih maksimal berjalan pada resolusi 1024 x 768 dan dengan Browser IE 5+