Thu, 18 September 2014
    
 
 
  Untitled Document
CARI BERITA

Masukkan kata :

ARSIP BERITA

  • September, 2014
  • Agustus, 2014
  • Juli, 2014
  • Juni, 2014
  • Mei, 2014
  • April, 2014
  • Maret, 2014
  • Februari, 2014
  • Januari, 2014
  • Desember, 2013
  • November, 2013
  • Oktober, 2013

  • TOPIK BERITA

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Iptek
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Hiburan

  • BERITA DAERAH

  • Sragen
  • Karangmalang
  • Masaran
  • Kedawung
  • Sidoharjo
  • Gondang
  • Sambungmacan
  • Sambirejo
  • Ngrampal
  • Sumberlawang
  • Gemolong
  • Miri
  • Kalijambe
  • Plupuh
  • Tanon
  • Mondokan
  • Tangen
  • Gesi
  • Sukodono
  • Jenar


  • Disponsori oleh :




     

    Halaman Berita


    Sragen


    [ 02/07/2008, 10:58 WIB ]
    THOROUGHBRED, KUDA SPESIALIS LINTASAN PACU


     
    SUMBERLAWANG - Pacuan kuda, adalah jenis olah raga yang relatif baru dikenal di Bumi Sukowati. Jika ditelusuri lebih dalam, banyak hal menarik yang dapat digali dari olahraga yang sarat nuansa kompetisi ini.

    Kuda-kuda yang berlaga di lintasan pacu bukan kuda sembarangan. Kuda pacu berbeda dari kuda tunggang, atau kuda yang biasa menarik delman. Postur tubuh yang gagah,dengan bulu licin mengkilat, adalah ciri yang dapat ditangkap dengan mudah oleh mata orang awam. Hal ini dijelaskan Pengurus Pordasi Cabang Sragen Bidang Litbang Budi Kadaryono, di sela-sela kesibukannya mempersiapkan even akbar Kapolda Cup II 2008 di lapangan Nyi Ageng Serang Sumberlawang, Rabu (2/7).

    Budi menjelaskan, kuda untuk pacuan adalah kuda yang sisilahnya terjamin. Kuda ini memiliki Bukti Registrasi Kuda ( BRK), atau seperti akte kelahiran pada manusia. Dalam BRK ini tertulis nama pejantan dan induk kuda tersebut. Jadi, dari BRK ini dapat ditelusuri silsilah kuda. Anak dari kuda yang pernah berprestasi, memiliki nilai jual yang lebih tinggi, karena memiliki jaminan skill yang tak jauh dari induknya.

    Dalam dunia pacuan kuda, dikenal kuda jenis thoroughbred. Budi menambahkan, kuda ini adalah hasil persilangan kuda – kuda terbaik yang berasal dari berbagai negara di dunia. Persilangan ini bertujuan untuk mendapatkan postur dan stamina kuda yang ideal untuk berpacu. Kuda thoroughbred yang baik biasanya baru dapat diperoleh setelah beberapa kali persilangan.

    “Dalam olahraga pacuan kuda di Indonesia tidak terdapat jenis kuda asli thoroughbred, “ ungkap Budi. Yang ada adalah jenis peranakkan thoroughbred dan sandel. Kuda sandel adalah kuda asli Indonesia asal Sumbawa. Posturnya lebih kecil. Peranakan thoroughbred dan sandel generasi pertama disebut G1. Hasil peranakan G1 dan sandel disebut G2, demikian seterusnya. Kuda pacu yang paling prima untuk Indonesia biasanya ada di tingkatan G3, yaitu peranakan G2 dan sandel. Peranakan ini disebut juga Thoroughbred Indonesia. Sedangkan peranakan G4 dan G4 disebut Kuda Pacu Indonesia (KPI).

    Pada event kejuaraan Kapolda Cup II 2008 akan digelar 14 kelas pertandingan. Kelas – kelas ini terbagi berdasarkan umur dan tinggi kuda. Kelas Pemula Perdana, Remaja dan Derby didasarkan pada umur kuda. Ada juga kelas kejuaraan yang terbagi berdasarkan tinggi kuda. Ketinggian ini diukur dari ujung kaki sampai ke tengkuk. Kelas A untuk tinggi kuda 158cm keatas, Kelas B 153cm-157,9cm, Kelas C 148cm-152,9cm, kelas D 143-147,9cm, kelas E 140cm-142,9cm, dan Kelas F 136 cm- 139,9cm.

    Budi mengatakan, kuda pacu biasanya memulai ‘karir’nya ketika berusia dua tahun. Kuda yang baru pertama kali berlari, berlaga di kelas Pemula Perdana. Selanjutnya, kuda berlomba di kelas Remaja.

    Adapun kelas Derby, diikuti oleh kuda yang berumur 3 sampai 3,5 tahun. “Kelas Derby hanya dialami kuda sekali seumur hidup,” kata Budi. Kelas ini adalah masa transisi dari kuda yang telah berlaga di Pemula Perdana untuk masuk kelas A,B,C dan seterusnya. Budi menambahkan, Derby adalah laga bergengsi, karena kuda tepat berada pada masa keemasannya. “Jadi,ya, gek top-tope,” ujar penghobi seni lukis ini. Lagipula, tak semua kuda dapat berpacu di kelas Derby. Hanya kuda yang memiliki tinggi minimal 152 cm saja yang boleh berlaga di kelas ini.

    Ternyata,setelah kuda kenyang malang melintang di lapangan pacuan, ada masa pensiunnya juga. Biasanya, setelah berumur 7 tahun, kemampuan kuda untuk berpacu sudah tidak optimal lagi. Mereka lalu menjadi induk dan pejantan, untuk menghasilkan kampiun-kampiun baru di lintasan. Ini menjadi lahan bisnis tersendiri bagi pemilik kuda. Kuda yang pernah menorehkan prestasi, laris manis disewa, untuk dikawinkan. Anak kuda akan otomatis berharga tinggi, jika ‘bapak-ibu’nya adalah kuda-kuda kaliber nasional.

    Harga kuda pacu tak bisa dikatakan murah. Pemilik kuda rela merogoh kocek Rp. 30 sampai 500 juta untuk satu ekor kuda pacu. Harga ini dipandang tak seberapa, jika dibanding kepuasan batin yang diperoleh, kala menyaksikan sang kuda kesayangan melesat meninggalkan semua lawan di lapangan pacuan kuda. (peppy)

    Sumber / Foto : Humas


    Berita Terkait : LAPANGAN KECIL BERTARAF NASIONAL.pdf

     

     
     
     

    Powered by Team PDE Sragen © 2003, untuk sragenkab.go.id
    Situs ini akan lebih maksimal berjalan pada resolusi 1024 x 768 dan dengan Browser IE 5+