Sat, 25 May 2013
    
 
 
  Untitled Document
CARI BERITA

Masukkan kata :

ARSIP BERITA

  • Mei, 2013
  • April, 2013
  • Maret, 2013
  • Februari, 2013
  • Januari, 2013
  • Desember, 2012
  • November, 2012
  • Oktober, 2012
  • September, 2012
  • Agustus, 2012
  • Juli, 2012
  • Juni, 2012

  • TOPIK BERITA

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Iptek
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Hiburan

  • BERITA DAERAH

  • Sragen
  • Karangmalang
  • Masaran
  • Kedawung
  • Sidoharjo
  • Gondang
  • Sambungmacan
  • Sambirejo
  • Ngrampal
  • Sumberlawang
  • Gemolong
  • Miri
  • Kalijambe
  • Plupuh
  • Tanon
  • Mondokan
  • Tangen
  • Gesi
  • Sukodono
  • Jenar


  • Disponsori oleh :




     

    Halaman Berita


    Tanon


    [ 09/07/2008, 07:35 WIB ]
    BERBURU TIKUS SETELAH PANEN


     
    TANON - Ada banyak pekerjaan yang dapat dilakukan olah para petani setelah musim panen selesai. Dari sekedar membersihkan sisa – sisa panen hingga mempersiapkan lagi lahan untuk ditanami. Apalagi menyambut musim kemarau seperti sekarang ini, beberapa petani banyak yang mulai menyiapkan lahan untuk ditanami berrbagai komoditas palawija, namun tidak sedikit juga yang akan menanam padi yang dalam istilah jawa disebut sebagai “nggadu “.

    Kesiapan lahan dan berbagai penunjang seperti kesedian sumber air akan sangan menentukan kelangsungan proses bertanam terutama bagi lahan yang hanya mengandalkan pengairan dari sumur pompa dan bukan irigasi dari waduk / dam. Dari penelusuran sekilas, banyak dari warga tani yang memilih “bermain aman “ dengan menanam palawija seperti Kedelai, Kacang Hijau, Kacang Tanah, Jagung dan lain – lain. Namun ada juga beberapa petani yang mencoba peruntukan dengan menanam komoditi yang membutuhkan modal banyak seperti Melon, Semangka Non Biji, Cabe Merah, Bawang Merah dan lain – lain.
    Namun menyambut musim kemarau ini, seperti yang telah berjalan sebelumnya, banyak diantara kelompok tani yang memanfaatkan jeda musim tanam dengan mengadakan pemberantasan hama terutama tikus.

    Binatang pengerat ini merupakan musuh yang sangat sulit untuk benar – benar hilang. Banyak perubahan ekosistem yang mendukung perkembangbiakan tikus ini, mulai dari adanya penangkapan ular sebagai musuh alami tikus oleh manusia hingga ketersediaan makanan yang banyak pada saat musim tanam padi.

    Oleh karena itu, seperti yang dilakukan kelompok tani yang ada di Desa Pengkol Kecamatan Tanon yang mengadakan gerakan pemberantasan tikus secara bergiliran pada areal sawah masing masing. Kegiatan ini juga dibantu oleh anak – anak sekolah yang kebetulan libur dari kegiatan belajar hingga dapat membantu kegiatan orang tua mereka diswah. Riuh rendah suara anak – anak bercampur dengan suara para orang tua saat sarang tikus dibongkar dan tentu saja semua tikus yang ada sontak berlarian. Momen inilah yang ditunggu, dengan bersenjatakan pentungan / tongkat dari kayu atau bambu seadanya, mereka memburu hama yang merugikan itu.

    Selama kegiatan yang diadakan oleh 7 ( tujuh ) kelompok tani selama tujuh hari berturut tersebut hampir mencapai 7.000an ekor tikus yang dapat diburu. ( 4.879 ekor tikus besar dan 2.294 ekor tikus kecil ). Tikus yang telah mati dikumpulkan dan dibakar setelahnya dikubur dalam tanah untuk menghindari penyebaran penyakit.

    Diharapkan kegiatan seperti ini terus dilaksanakan baik oleh kelompok tani yang ada di Desa Pengkol Kecamatan Tanon ini maupun oleh kelompok tani di desa lain dengan harapan dapat dijadikan sarana untuk mengendalikan populasi hama tikus dan juga menjaga silaturahmi antar pemilik sawah karena dengan kebersamaan dalam memburu hama tikus ini, mereka juga dapat saling berinteraksi dan berbagi ilmu dalam bercocok tanam. (S-Kec.Tanon)

    Sumber / Foto : Kec. Tanon


     

     
     
     

    Powered by Team PDE Sragen © 2003, untuk sragenkab.go.id
    Situs ini akan lebih maksimal berjalan pada resolusi 1024 x 768 dan dengan Browser IE 5+