Thu, 18 September 2014
    
 
 
  Untitled Document
CARI BERITA

Masukkan kata :

ARSIP BERITA

  • September, 2014
  • Agustus, 2014
  • Juli, 2014
  • Juni, 2014
  • Mei, 2014
  • April, 2014
  • Maret, 2014
  • Februari, 2014
  • Januari, 2014
  • Desember, 2013
  • November, 2013
  • Oktober, 2013

  • TOPIK BERITA

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Iptek
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Hiburan

  • BERITA DAERAH

  • Sragen
  • Karangmalang
  • Masaran
  • Kedawung
  • Sidoharjo
  • Gondang
  • Sambungmacan
  • Sambirejo
  • Ngrampal
  • Sumberlawang
  • Gemolong
  • Miri
  • Kalijambe
  • Plupuh
  • Tanon
  • Mondokan
  • Tangen
  • Gesi
  • Sukodono
  • Jenar


  • Disponsori oleh :




     

    Halaman Berita


    Nasional


    [ 06/03/2009, 09:43 WIB ]
    Belajar Beternak di Kampung Bebek


     

           SRAGEN - Bebek ternyata bisa menjadi mesin uang. Tak percaya? Coba tengok dukuh Nusupan Wetan Rt 15 Rw 5 Desa Celep kecamatan Kedawung Kabupaten Sragen. Sebagian besar warganya memilih beternak bebek. Maka tak heran kalau kampung yang dihuni 23 kepala keluarga tersebut memilih beternak bebek sebagai mata pencahariannya sehingga dikenal dengan sebutan “Kampung Bebek”. Penghasilan beternak bebek juga sangat menjanjikan, setiap KK dapat mencapai Rp 9 Juta perbulan. Itu pun hanya dari menjual telurnya saja.

           Bisnis budidaya bebek kini menjadi pilihan ketimbang memelihara unggas lain, selain keuntungannya menggiurkan , bebek termasuk unggas yang tahan dari serangan penyakit seperti flu burung. Bisnis budidaya bebek memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Apalagi jika budidaya dilakukan secara intensif dalam arti tidak dilakukan sebagai kegiatan sambilan.

           Apalagi sekarang permintaan pasar tidak hanya telur bebek, tetapi juga bebek potong semakin meningkat. Daging bebek memiliki kekenyalan dan aroma yang khas. Buktinya di mana-mana sedang merebak restoran dan warung makan yang menawarkan sajian bebek dengan aneka pilihan menu.

           Bebek di Indonesia awalnya berasal dari Jawa. Sementara di Inggris dikenal dengan nama Indian Runner (Anas Javanico). Berbagai jenis lokal dikenal penamaannya berdasarkan tempat pengembangannya, wilayah asal dan sifat morfologis.

           Umumnya peternakan bebek ditujukan untuk bebek petelur. Namun peluang bebek pedaging juga bisa diambil dari bebek jantan atau bebek betina yang sudah habis masa produksinya, biasanya yang sudah berumur diatas 1 tahun. Selain itu pebisnis juga bisa mengambil bagian pembibitan ternak bebek sebagai fokus usaha.

           Namun sebelum seorang peternak memulai usahanya harus menyiapkan diri dengan pemahaman tentang perkandangan, bibit unggul, pakan ternak, pengelolaan dan pemasaran hasil. Misalnya bagaimana pemeliharaan anak bebek (5-8 minggu), pemeliharaan bebek n dara (umur 8-20 minggu keatas) dan pemeliharaan bebek petelur (umur 20 minggu keatas).

           Sedangkan pengembangan dan pemeliharaan bebek potong agar tercapai efisiensi pemanfaatannya dapat menggunakan bebek yang telah lewat masa produksinya maupun bebek jantan. Hal ini dimaksudkan karena bebek jantan mempunyai berbagai keunggulan dan keuntungan kalau ditinjau dari segi ekonomisnya. Sementara harga bibit bebek jantan lebih murah jika dibandingkan bebek betina, karena masyarakat hanya mengenal dan memetik keuntungan dari bebek betina.


           Pemeliharaannya tidak membutuhkan waktu yang lama, dimana hasil sudah bisa dipetik dalam waktu 2-3 bulan. Hal tersebut  karena pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya relatif lebih baik daripada bebek betina. Berat badan sampai saat dipotong tidak kurang dari 1,5 kg. Dengan memanfaatkan bebek jantan, dalam waktu yang relatif singkat sudah dapat dicapai berat yang lebih dibutuhkan. Pemotongan pada umur yang relatif muda, menghasilkan daging yang lebih empuk, lebih gurih dan nilai gizinya lebih tinggi.

           Sentra peternakan bebek di Nusupan ini sudah dikenal lama. Awalnya tentu dengan teknologi yang sangat sederhana dan bersifat sambilan. Biasanya bebek digembalakan di persawahan dan sungai. Hasilnya pun selain dikonsumsi sendiri juga dijual untuk menambah pendapatan untuk menutup kebutuhan rumahtangga sehari-hari. Saat ini telah berkembang pesat.

           “Almarhum Mbah Suto yang mengenalkannya beternak bebek disini sekitar tahun 1970.karena profesinya beternak bebek, ia terkenal dengan sebutan Suto Bebek. Awalnya tetangga yang berdekatan dengan kandangnya merasa terganggu dengan baunya, Tapi lama-lama malah ikut-ikutan menekuni ternak bebek. Hal itu menular ke warga sekitarnya,” ungkap Lurah Celep Suharno.

           “Hingga tahun 2000 telah ada 23 KK peternak bebek dengan populasi sekitar 15 ribu ekor bebek. Mereka terhimpun dalam kelompok peternak bebek  “Rejeki Agung”. karena populasi bebek disini sangat besar, tentunya harus ada penanganan khusus, agar keberadaan bebek tersebut tidak mengganggu lingkungan dan kesehatan. Maka atas inisiatif bersama dicanangkan satu kawasan, dan dibuat drainase saluran pembuangan yang langsung ke sungai sehingga bau kotoran  bisa diminimalisir. Kebetulan  lokasi kampung ini miring kearah  sungai, sehingga memudahkan pembuangan kotoran,” tambahnya.

           Sementara  Bayan Celep Suwondo mengatakan, berdasarkan penilaian para konsumen, telur bebek  dari Nusupan, kualitasnya lebih baik. Hal itu karena tehnik pemeliharaan bebek yang baik serta kondisi alam disini yang mendukung.

           Pembelinya beragam sebagian besar dari luar kota seperti Surakarta, Boyolali dan Sukoharjo.  Gaung desa Nusupan sebagai Sentra bebek ternyata telah terdengar pemerintah pusat, sehingga memberikan bantuan rumah permanen,dilengkapi mesin penggiling dan pencampur pakan.

           “Bebek sangat cocok digembalakan di daerah yang memiliki sungai-sungai kecil. Bebek yang digembalakan cenderung lebih produktif. Masa produktif itik yang ideal adalah 1 tahun. Produksi telur rata-rata 200-300 butir per tahun dengan berat rata-rata 70 gram,” jelas Agus salah satu peternak bebek di Dukuh Nusupan.

            “Biasanya kandang bebek dibuat sederhana, dengan dinding bambu dan atap genteng atau alang-alang. Kandang bebek disekat menjadi dua bagian. Satu bagian untuk tempat makan dan bagian lainnya untuk tempat bertelur. Kandang bebek harus dibersihkan setiap harinya. Kebersihan dan kenyamanan bebek akan sangat berpengaruh pada produktifitasnya. Akan lebih baik apabila pakannya dari gilingan kerang dan jagung,” tambah Agus

           Agus menjelaskan peternak harus memilih apakah akan fokus menjual telur atau bibit. Apabila telur, perbandingannya bebek betina 100 bebek jantan cukup satu (100:1). Tapi apabila beternak untuk dijadikan bibit maka perbandingannya bebek jantan 90 bebek betina 10 (9:1).

           Agus mengungkapkan, untuk memilih telur yang baik untuk ditetaskan pilih yang berwarna biru cerah, bentuknya tidak terlalu bulat maupun lonjong, dibawah sorotan cahaya terlihat ada ruang udara berwarna hitam didalam telur. Untuk menetaskannya secara konvensional bisa dengan dierami lewat bantuan ayam, karena sifat bebek tidak mau mengerami telurnya. Ada juga cara di oven dengan suhu stabil sesuai panas saat dierami sekitar 38-30 derajat celcius.

           Di peternakannya Agus menerapkan pola pakan untuk bebek berumur 0-15 hari diberi pakan BR1, setelah itu sampai umur 35 hari pakan katul dan aking. Selanjutnya dilepas ke lading untuk mencari pakan sendiri hingga siap bertelur sekitar 5 bulan. Untuk minumnya satu gallon dicampur satu sendok vitachip. “Biasanya waktu dilepas ke lading dua kali. Pagi pukul 06.00-08.00 WIB dan siang pukul 14.30-17.00 WIb,” jelas Agus.

           Saat ini harga Telur mentah konsumsi = Rp. 970,- Harga telur tetas = Rp 1300,- . Harga DOD/Meri Jantan = Rp.2600,- Harga DOD/Meri Betina= Rp 4700,- Harga Itik Bayah / Siap Bertelur Betina 41.000,- per ekor dan jantan Rp 40.000. Sedangkan bebek yang sudah tidak berproduksi/ upkir Rp 27.000.(Wid - Humas)



    MAJALAH INFO SUKOWATI                   Tabloid SMART Edisi 2 / Maret / 2009


    KLIK DISINI                                                   KLIK DISINI


                                         


    By HUMAS



     

     
     
     

    Powered by Team PDE Sragen © 2003, untuk sragenkab.go.id
    Situs ini akan lebih maksimal berjalan pada resolusi 1024 x 768 dan dengan Browser IE 5+