Mon, 20 May 2013
    
 
 
  Untitled Document
CARI BERITA

Masukkan kata :

ARSIP BERITA

  • Mei, 2013
  • April, 2013
  • Maret, 2013
  • Februari, 2013
  • Januari, 2013
  • Desember, 2012
  • November, 2012
  • Oktober, 2012
  • September, 2012
  • Agustus, 2012
  • Juli, 2012
  • Juni, 2012

  • TOPIK BERITA

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Iptek
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Hiburan

  • BERITA DAERAH

  • Sragen
  • Karangmalang
  • Masaran
  • Kedawung
  • Sidoharjo
  • Gondang
  • Sambungmacan
  • Sambirejo
  • Ngrampal
  • Sumberlawang
  • Gemolong
  • Miri
  • Kalijambe
  • Plupuh
  • Tanon
  • Mondokan
  • Tangen
  • Gesi
  • Sukodono
  • Jenar


  • Disponsori oleh :




     

    Halaman Berita


    Nasional


    [ 21/01/2012, 08:34 WIB ]
    Bersih Desa, Salah Satu Wujud Menjaga Kearifan Lokal


     
           SRAGEN – Secara tidak sadar kita telah melupakan kearifan lokal yang berkembang dalam kehidupan masyarakat kita sendiri yang telah bertahan selama berabad-abad lamanya. Semuanya akan hilang secara bertahap hanya dalam hitungan tahun setelah mengalami gempuran budaya asing yang begitu intens. Menyadari akan hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Sragen ingin mengangkat kembali akan pentingnya menjaga kearifan lokal.

           Bila dilihat dari kamus Inggris - Indonesia, maka pengertian kearifan lokal terdiri dari 2 kata, yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Local yang berarti setempat, sementara wisdom sama dengan kebijaksanaan. Dengan demikian maka dapat dipahami, bahwa pengertian kearifan lokal merupakan gagasan-gagasan atau nilai-nilai, pandangan-padangan setempat atau (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Salah satu bentuk kearifan lokal yang selama ini berkembang berabad-abad di masyarakat Jawa adalah budaya Bersih Desa. Dengan Press Release ini Pemkab Sragen ingin menyadarkan kembali akan pentingnya menjaga kearifan lokal warisan para leluhur.


           Manusia dan alam merupakan satu kesatuan. Hubungan dua elemen itu, seakan tak bisa lepas satu sama lain. Hubungan simbiosis keduanya pun menjadi keniscayaan. Namun, dalam perkembangan manusia modern, alam seakan menjadi objek untuk meneguhkan dan meneruskan kehidupan manusia. Alam yang rusak, sampah dimana-mana, berimplikasi kepada banyaknya bencana alam yang memakan banyak korban jiwa. Disinilah diperlukan kesadaran ekologis manusia untuk paham dengan alam. Manusia yang secara sadar peduli dengan alam. Yang menarik adalah, masyarakat kita, dahulu begitu menghargai alam. Hal ini terbukti dengan adanya ritual bersih desa, sebagai bentuk atau wujud penghormatan manusia terhadap alam.


           Yang menarik, relasi kehidupan masyarakat jawa dengan alam terbina erat. Kehidupan masyarakat jawa, erat berhubungan dengan alam katakan saja seperti Petani, peternak. Petani hidup dari alam. Para petani mengolah alam, untuk menghasilkan bahan makanan.


           Lalu, kehidupan yang selaras ini mampu menguatkan sensifitas spiritual. Masyarakat jawa memang hidup di tengah berbagai simbolisme, sebagai wujud spiritual. Kepercayaan terhadap sesuatu “diluar” manusia inilah yang memunculkan simbol-simbol yang mampu menjaga relasi hubungan manusia dengan alam. Salah satunya ialah ritual bersih desa.


           Bersih desa merupakan tradisi turun temurun dalam kebudayaan masyarakat . Di Jawa khususnya, ritual bersih desa telah dilakukan berabad-abad lamanya. Ritual bersih desa di jawa merupakan wujud bersatunya manusia dengan alam. Ritual Bersih Desa dapat didefinisikan sebagai wujud rasa syukur warga sebuah desa atas berkat yang diberikan Tuhan kepada masyarakat desa, baik dari hasil panen, kesehatan, dan kesejahteraan yang telah diperoleh selama setahun dan juga sebagai permohonan kepada Yang Maha Kuasa akan keselamatan dan kesejahteraan warga desa untuk satu tahun mendatang.


           Ritual Bersih Desa sendiri biasanya dilaksanakan satu kali dalam setahun setelah musim panen tiba dan tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun dari zaman nenek moyang. Hari pelaksanaanya pun tidak sembarangan ditentukan, melainkan ada hari-hari tertentu di dalam kalender Jawa yang merupakan hari sakral untuk melaksanakan Ritual Bersih Desa.


           Ritual Bersih Desa tidak selalu sama di setiap daerah atau desa karena memang leluhur yang membawa tradisi tersebut berbeda di setiap daerah. Oleh karena itu upacara adat yang dilaksanakan pun berbeda tergantung pada leluhur siapa yang disakralkan.


           Sesajen dan peralatan yang dipergunakan untuk upacara adat pun berbeda, menyesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada di daerah masing-masing atau kebutuhan akan hal tersebut yang memang berbeda-beda. Walaupun berbeda namun secara umum tujuan diadakannya ritual dan tahapan pelaksanaannya dapat dikatakan serupa hanya beberapa detail ritual yang disesuaikan dengan daerah masing-masing.


           Ritual Bersih Desa sendiri terdiri dari beberapa tahapan, diawali dengan kerja bakti membersihkan lingkungan yang dilakukan oleh seluruh warga desa baik membenahi jalan atau gang-gang, selokan, pos ronda agar terlihat rapi dan bersih. Selain itu biasanya warga juga membersihkan makan-makam yang dianggap keramat, terutama makam-makam leluhur, sosok atau tokoh yang pernah menjadi panutan masyarakat desa tersebut. Tujuan lain adalah untuk membersihkan halangan atau kesusahan yang ada (resik sukerta/sesuker) agar kehidupan seluruh warga tenang dan tenteram.


           Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan persiapan upacara adat yang dilaksanakan untuk wujud sukur dan permohonnan kepada Tuhan YME atas kesejahteraan dan kesehatan yang diberikan kepada warga desannya, di daerah lain kegiatan upacara adat ini dilakukan untuk memohon dan berterima kasih justru kepada leluhur dan dilakukan di makamnya atau dirumah juru kunci makamnya.


           Kegiatan ini biasanya disertai dengan kirab yaitu iring-iringan yang menyertai perjalanan upacara adat menuju tempat yang dianggap keramat dan dibawa pula sesaji yang berasal dari hasil panen warga desa yang dipersembahkan kepada leluhur sebagai symbol kesejahteraan yang mereka peroleh selama setahun. Adapun sesaji yang menjadi bagian dari kegiatan upacara adat ini akan dibagikan atau diperebutkan oleh warga desa yang percaya bahwa sesaji tersebut bisa mendatangkan berkah. Umumnya sesaji yang dipergunakan seperti Nasi Gurih, sebagai persembahan kepada para leluhur. Ingkung, sebagai lambang manusia ketika masih bayi dan sebagai lambang kepasrahan pada Yang Maha Agung. Jajan Pasar, sebagai lambang agar masyarakat mendapat berkah. Pisang Raja, sebagai lambang harapan agar mendapat kemuliaan dalam masa kehidupan. Nasi Ambengan, sebagai ungkapan syukur atas rezeki dari Yang Maha Agung. Jenang, berupa jenang merah putih (lambang bapak dan ibu) dan jenang palang (penolak marabahaya).   Tumpeng, berupa tumpeng lanang (lambang Yang Maha Agung) dan tumpeng wadon (lambang penghormatan pada leluhur) yang ukurannya lebih kecil.


           Ritual Besih Desa ini ditutup dengan pegelaran kesenian, biasanya adalah wayang kulit dengan lakon cerita “Makukuhani” atau “Sri Mulih” atau “Sri Boyong” yang mengisahkan legenda Dewi Sri sebagai lambang kemakmuran agar terus bersemayam di desa tersebut.


           Sesajen merupakan simbol penghormatan kepada “Gusti”. Sebab, masyarakat jawa percaya dengan kekuatan di luar mereka. Inilah cara pandang kosmos masyarakat jawa. Sesajen, diwujudkan dengan beberapa makanan, sebagai simbol bersyukur kepada alam yang telah memberikan kecukupan.


           Jika kita memakai persfektif (sudut pandang) budaya, dalam konsep pelestarian, ritual hajat bumi dilakukan sebagai langkah untuk terus mempertahankan tradisi yang turun temurun diterima warga. Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang religius. Perilaku kesehariannya dipengaruhi oleh pemikiran spiritualitas. Berada dalam lingkup ruang kosmos. Yang menarik, adalah relasi kehidupan  masyarakat Jawa mempunyai hubungan istimewa dengan alam.


           Dalam sejarah kehidupan dan alam pikiran masyarakat Jawa, alam di sekitar masyarakat sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Alam sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat, bahkan dalam mata pencaharian mereka. Sebagai contoh yang sangat sederhana, musim sangat berpengaruh pada mata pencaharian bercocok tanam. Mungkin karena kedekatan masyarakat terhadap alam pula yang menyebabkan berkembangnya pemikiran mengenai fenomena kosmogoni dalam alam pemikiran masyarakat Jawa, yang kemudian melahirkan beberapa tradisi atau ritual yang berkaitan dengan penghormatan terhadap alam tempat hidup mereka.


           Dalam kajian kontemporer, hal ini relevan dengan konsep ecoliteracy-nya Fritjof Capra. Menurut Capra, dalam kehidupan modern, masalah ekologi menjadi masalah yang krusial. Paradigma dalam memanfaatkan alam perlu diubah menjadi paradigma bersatu dengan alam. Sebab, menurut Capra, cara pandang yang menganggap alam sebagai objek menjadikan eksploitasi berjalan secara tak terkendali. Akhirnya memunculkan kerusakan ekologi. Keselarasan hidup antara manusia dan alam perlu dijaga.


           Nah, itulah kemudian ritual bersih desa menjadi sebuah upaya pelestarian alam. Dengan modal sosial dan budaya yang telah turun temurun, menjadikan ritual bersih desa sangat penting untuk membentuk paradigma Hamemayu Hayuning Buwana. (Hart – diolah dari berbagai sumber)


     

     
     
     

    Powered by Team PDE Sragen © 2003, untuk sragenkab.go.id
    Situs ini akan lebih maksimal berjalan pada resolusi 1024 x 768 dan dengan Browser IE 5+