Wed, 1 October 2014
    
 
 
  Untitled Document
CARI BERITA

Masukkan kata :

ARSIP BERITA

  • Oktober, 2014
  • September, 2014
  • Agustus, 2014
  • Juli, 2014
  • Juni, 2014
  • Mei, 2014
  • April, 2014
  • Maret, 2014
  • Februari, 2014
  • Januari, 2014
  • Desember, 2013
  • November, 2013

  • TOPIK BERITA

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Iptek
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Hiburan

  • BERITA DAERAH

  • Sragen
  • Karangmalang
  • Masaran
  • Kedawung
  • Sidoharjo
  • Gondang
  • Sambungmacan
  • Sambirejo
  • Ngrampal
  • Sumberlawang
  • Gemolong
  • Miri
  • Kalijambe
  • Plupuh
  • Tanon
  • Mondokan
  • Tangen
  • Gesi
  • Sukodono
  • Jenar


  • Disponsori oleh :




     

    Halaman Berita


    Nasional


    [ 21/04/2012, 09:08 WIB ]
    Sosok Kartini (2) : PERSAHABATAN TAK MENGENAL BATAS


     

           SRAGEN - Hidup dalam pingitan, tak membuat Kartini diam dan menyerah. Melalui surat-suratnya, ia jalin persahabatan tanpa batas, menembus kungkungan tembok tebal adat itu.

           Sebagai putri seorang bupati yang berpikiran maju, Kartini memperoleh kesempatan untuk berkenalan dengan para isteri pejabat Belanda yang mengadakan perjalanan dinas ke Jepara. Dari perkenalan itu terjalin persahabatan yang sangat erat, kemudian dilanjutkan dengan surat-menyurat.

           Meski usianya terpaut jauh, Kartini tidak merasa canggung dan malu, bahkan ia sendiri yang mengajak untuk menjalin persahabatan dan bertukar pikiran. Diantara sahabat-sahabatnya, tercatat nama Ny. Ovink Soer, Ny. Stella, Ny. Van Kol dan Mr. J.H. Abendanon.

           Sejak saat itu, hampir tiap hari, Kartini menyediakan waktu khusus untuk menulis surat kepada para sahabatnya. Kala itu ia selalu melahap berbagai informasi dari buku, koran dan majalah sehingga pengetahuannya amat luas. Kartini benar-benar memanfaatkan waktu dalam pingitan untuk membaca dan bertukar-pikiran melalui surat menyurat (koresponden) dengan sahabatnya di dalam maupun luar negeri.

           Kepada temannya ia mengungkapkan tentang apa yang tengah dilakukannya. “Membaca dan menulis adalah segala-galanya bagiku. Tanpa kedua hal tersebut, barangkali aku mati”, katanya.

           Sabahat Kartini terus bertambah, karena ia juga berkenalan kepada banyak orang lewat koran atau majalah alias sahabat pena. Baginya, persahabatan itu tidak mengenal batas.

           Perasaan dan pikiran Kartini yang tersiksa melihat gadis pribumi yang dikekang atau terkungkung oleh adat, dicurahkan dalam surat-suratnya. Ia ungkapkan gejolak hati, pergulatan batin, keinginan dan cita-citanya. Semua sahabatnya harus tahu, barangkali mereka dapat membantunya. Ia terus menulis dan menulis dari belakang tembok kabupaten yang tebal dan tinggi itu.

           Dari para sahabatnya di negeri Belanda, Kartini mendapat kiriman buku-buku dan majalah. Mereka juga selalu mendorong Kartini untuk banyak membaca dan menuangkan pikiran melalui tulisan agar diketahui oleh masyarakat luas.

           Karena itu selain menulis surat untuk para sahabatnya, tulisan atau artikel Kartini pun banyak dimuat di majalah dan koran. Tulisan Kartini tidak hanya terbatas pada persoalan perjuangan untuk kaum wanita, tetapi juga mencakup berbagai hal tentang kehidupan umat manusia.

           Kartini juga tidak tinggal diam. Untuk mewujudkan cita-citanya ke arah pendidikan kaum wanita Indonesia (pribumi), dengan persetujuan dan bantuan Direktur Departemen Pengajaran Hindia Belanda, Mr. J.H. Abendanon, pada tahun 1900 Kartini membuka sekolah kecil di halaman Kabupaten Jepara. Pada mulanya hanya terbatas pada lingkungan keluarga, tetapi kemudian masyarakat diluar kabupaten mulai menghargai usahanya dan menyerahkan anak-anaknya untuk dididik.

           Tahun 1903 Kartini menikah dengan Raden Adipati Ario Djojohadiningrat, Bupati Rembang yang sangat menghargai dan memberikan bantuan sepenuhnya atas usaha Kartini. Beberapa bulan sesudah pindah di kabupaten Rembang, bulan Januari 1904 ia membuka sekolah gadis di tempatnya yang baru itu. Sedangkan sekolah di halaman Kabupaten Jepara diteruskan oleh adik-adiknya.

           Sayang, kebahagiaan dan usahanya itu tidak lama dapat dinikmati oleh putri agung ini. Pada tanggal 17 September 1904, lebih kurang satu tahun setelah menikah dan lima hari setelah melahirkan puteranya yang pertama, Kartini meninggal dunia, dalam usia sangat muda, 25 tahun.

           Namun demikian, perjuangan dan cita-cita Kartini tidak terhenti sampai disitu. Tahun 1911, Mr. J.H. Abendanon, salah satu sahabat Kartini yang juga menjabat Direktur Departemen Pengajaran Hindia Belanda menerbitkan sebuah buku tulisan Kartini berjudul Door Duisternis tot Licht.

           Tahun 1923 buku ini telah mengalami cetak ulang ke-4. Baru sekitar tahun 1938, Balai Pustaka Jakarta menerbitkan terjemahannya dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini berisi kumpulan sebagian dari ratusan surat Kartini kepada para sahabatnya orang Belanda yang ditulisnya antara tahun 1900 hingga 1904.

           Dalam surat-suratnya itu terbentang cita-cita dan tersirat duka derita batinya. Terasa didalamnya betapa jauh gagasan-gagasan Kartini meninggalkan alam feodal tempat ia dibesarkan. Betapa jauh ke depan pandangan-pandangannya dan begitu besar kasih sayangnya terhadap kaumnya.

           Dikemudian hari, surat-surat Kartini itu telah menarik perhatian dunia dan diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Di Amerika misalnya, seorang bernama Agnes Louise Symmers menerjemahkan kedalam bahasa Inggris berjudul Letters of Javanese Princess. Kemudian ada terjemahan bahasa Perancis dengan judul Letters de R.A. Kartini, dan masih banyak lagi.

           Dalam salah satu surat kepada sahabatnya, Kartini mengungkapkan perasaan yang amat mengharukan : Stella. Aku tahu jalan yang hendak aku tempuh ini sukar. Banyak duri dan onaknya. Begitu juga banyak lobangnya. Jalan itu berbatu dan berliku-liku. Biarpun aku tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, aku akan mati dengan perasaan bahagia, sebab jalannya telah dirintis. Aku telah ikut membantu untuk membuat jalan yang menuju ke arah wanita bumiputra yang merdeka dan berdiri sendiri. (Suparto /bersambung)


     

     
     
     

    Powered by Team PDE Sragen © 2003, untuk sragenkab.go.id
    Situs ini akan lebih maksimal berjalan pada resolusi 1024 x 768 dan dengan Browser IE 5+