Sun, 26 May 2013
    
 
 
  Untitled Document
CARI BERITA

Masukkan kata :

ARSIP BERITA

  • Mei, 2013
  • April, 2013
  • Maret, 2013
  • Februari, 2013
  • Januari, 2013
  • Desember, 2012
  • November, 2012
  • Oktober, 2012
  • September, 2012
  • Agustus, 2012
  • Juli, 2012
  • Juni, 2012

  • TOPIK BERITA

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Iptek
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Hiburan

  • BERITA DAERAH

  • Sragen
  • Karangmalang
  • Masaran
  • Kedawung
  • Sidoharjo
  • Gondang
  • Sambungmacan
  • Sambirejo
  • Ngrampal
  • Sumberlawang
  • Gemolong
  • Miri
  • Kalijambe
  • Plupuh
  • Tanon
  • Mondokan
  • Tangen
  • Gesi
  • Sukodono
  • Jenar


  • Disponsori oleh :




     


    Berita Tangen


    [ 23/03/2013, 09:10 WIB ]
    Pengrajin Tampah Bambu


    TANGEN- Keuletan dan
    kesabaran Bpk Sumardi/ Widodo  warga
    Dukuh Girimulyo, desa Katelan, Kecamatan Tangen tak surut meski untuk mencari
    bahan baku pekerjaan sampingannya saat ini sudah dirasa sulit.



           Bambu, secara historis memang banyak ditemukan di Kabupaten Sragen. Akan
    tetapi, si pengrajin tampah (nampan) ini mengaku suka tersendat produksinya
    lantaran sulitnya pasokan bahan baku.



           Untuk memenuhi kebutuhan produksinya, dia harus memesan ke tukang bambu dengan
    harga Rp 5 ribu per batang bambu. Sejak puluhan tahun silam, Bpk Sumardi/
    Widodo mengerjakan kerajinan yang diwariskan oleh orang tuanya.



          Untuk menghasilkan anyaman tampah, Bpk Sumardi/ Widodo mesti membelah dan
    membersihkan batangan bambu yang dia beli itu. Ia bentuk sedemikian rupa,
    hingga potongan bambu itu tersayat dan terirat tipis-tipis.



           Untuk satu kodi tampah isi 20 ayaman bambu membutuhkan dua batang bambu dengan
    panjang delapan meter, ucapnya.
     


           Hasil dari pekerjaan sampingan itu dijualnya kepada pengepul yang mendatanginya
    setiap minggu.

    Biasanya Senin, pengepul tersebut masuk ke daerah Girimulyo yang notabene
    masyarakatnya berprofesi pengrajin anyaman bambu.



           Mereka memborong tampah dan kerajinan ayaman bambu lainnya seperti kurungan
    ayam, untuk dibawa ke Pasar Kota, atau Pengecer, Bpk Sumardi/ Widodo.



           Ia mengaku untuk sekodi tampahnya, pengepul membeli dengan harga Rp 140 ribu. Dari
    pada nganggur, terus ngerumpi yang enggak-enggak, mendingan waktunya
    dimanfaatkan seperti ini Mas. Hitung-hitung hasilnya bisa untuk membeli
    keperluan dapur sehari-hari, Bpk Sumardi/ Widodo.



           Ia mengharap bantuan modal dari Pemerintah Daerah guna menopang keberlangsungan
    usaha kerajinan yang digelutinya selama ini. (pj/yl).

    [ PDE ]


    [ 06/05/2010, 07:42 WIB ]
    KASUR ALAMI YANG MENINABOBOKAN

           TANGEN - Ingin mendapatkan kasur yang empuk, nyaman, dan hangat tapi harganya bersahabat? pilih saja kasur kapuk alami dari Desa Jekawal Kec. Tangen. Di desa ini, banyak penduduknya yang berprofesi sebagai pengrajin Kasur Kapuk, dan anda bisa memilih model, kualitas, dan harga sesuai yang anda inginkan.


            Di Dukuh Bokoran, Rt 12 Desa Jekawal, terdapat seorang pengrajin yang hasilnya banyak dikomentari memuaskan oleh para warga, yaitu Ibu Sri. Olehnya, Kapuk randu bersih + 20 Kg, kain loreng dan 3 Rol Benang dapat disulap menjadi sebuah kasur empuk nan hangat dalam 2 hari saja.


    Proses Pembuatan Kasur


           Dijelaskan oleh Bu Sri, pembuatan kasur dilakukan melalui beberapa tahap, antara lain ; memotong kain yaitu memotong kain dalam bentuk ukuran kasur yang dibutuhkan, menggendir dengan menjahit bagian-bagian kain berbentuk kotak-kotak kecil kemudian menyodok/mengisi kasur dengan kapuk. Kapuk yang dipilih adalah kapuk randu pilihan yang sudah melalui proses dengan menjemur, dan menyabat (memisahkan antara biji, ati dan kapuk) yang menghasilkan kapuk bersih yang siap diisikan ke dalam kain kasur. Terakhir kasur siap dikemas dengan plastik guna menghindari kotor dan basah. Kebanyakan, para ahli pembuat kasur, bantal, dan guling di Desa Jekawal memilih bahan dari kapuk pilihan karena tidak ingin mengecewakan pelanggan atau konsumennya.


           Kesulitan yang dihadapi oleh para pembuat kasur kapuk ini adalah persaingan dengan produk-produk kasur modern, seperti kasur busa, springbed, kasur bulu angsa, dan kasur air, meskipun ukuran kasur kapuk bisa sangat fleksibel dibuat sesuai dengan permintaan. Namun sekali lagi pemasaran kasur yang semakin sering dijemur akan semakin empuk ini terhambat dengan terbatasnya modal. Seperti yang diungkapkan Ibu Sri yang ingin sekali membuat usahanya menjadi lebih maju dan berkembang tetapi modalnya kurang, karena pembuatan kasur, bantal, guling itu hanya pekerjaan sampingan apabila ada orang yang memesannya. Pembuat Kasur bantal guling kapuk Ibu Sri, Pemesanan : 081386387102
    (fa_rtn_PDE)

    [ Kec.Tangen-PDE ]


    [ 12/04/2010, 09:28 WIB ]
    BUKAN SEKEDAR NYAMAN, BUTUH SENI UNTUK KURSI YANG UNIK

           TANGEN - Mebel berbahan bambu wulung? Sepertinya sudah merupakan hal yang sangat biasa. Namun dengan Pemilihan dan penyortiran bambu yang berkualitas tinggi dan memiliki ketebalan tertentu inilah yang merupakan kelebihan dari hasil Kerajinan Meja Kursi Bambu Wulung milik Suwanto, warga Dk. Sugiyan RT 12 Desa Dukuh Kecamatan Tangen. Dengan sentuhan kreatif, bambu yang sekian tahun lalu identik dengan kehidupan pedesaan bisa tampil sebagai barang-barang, perabotan, yang berkesan mewah bahkan jadi komoditas ekspor.


           Bambu wulung yang bernama latin Gigantochloa verticillata merupakan bambu berwarna hitam yang mempunyai warna kontras antar ruas dan buku-bukunya yang sangat indah, sehingga menampilkan keunikan serta artistik yang tinggi bila diolah. Sebagai salah satu usaha yang berbasis kerajinan tangan (handicraft) maka produk kerajinan mebel bambu memerlukan keterampilan tangan dan keuletan, sehingga produk yang dihasilkan memiliki seni dan bernilai jual tinggi.


           Dalam pengerjaannya Suwanto melakukannya sendiri dengan menggunakan peralatan khas miliknya. Proses produksi diawali dengan pemilihan bambu, untuk satu set dipilih 10 batang bambu pilihan, serta rotan 1 Kg. Bambu direndam 1 hari 1 malam dengan cairan khusus. Setelah digergaji sesuai bentuk dan kebutuhan, kursi ditambahkan anyaman rotan atau potongan bambu. Untuk mendapatkan hasil yang halus, bambu diamplas secara merata dan dilapisi cairan khusus sehingga selain awet juga terlihat lebih rapi dan bersih.


           Menurut Suwanto, kendala yang dihadapi adalah terbatasnya modal dan pemasaran yang kurang luas. Produk yang dihasilkan oleh Suwanto adalah Meja Kursi Sudut, Meja Kursi Tamu, Meja Kursi Makan, Sofa Bambu, dan Kursi Malas, dengan harga pesan rata-rata Rp. 450.000.
    Kerajinan Bambu Wulung Suwanto : 085229934316(sty_fa_pde)

    [ PDE-Kec.Tangen ]


    [ 24/02/2009, 09:13 WIB ]
    BAKTI SOSIAL YAPENAS 2009

           SRAGEN - Untuk mewujudkan kepedulian sosial dan menggugah rasa kasibh sayang serta kepekaan sosial yang tinggi, Senat Mahasiswa Politeknik Unggulan Sragen ( YAPENAS ) mengadakan kegiatan Bakti Sosial Yapenas tahun 2009 di desa Ngrombo Kec. Tangen, pada Sabtu (21/2) kemarin.


           Kegiatan Bakti Sosial tersebut merupakan bagian dan program kerja Senat Mahasiswa yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya dengan tempat yang berbeda-beda. BakSos yang mengambil tema “Dengan semangat kasih sayang dan kepekaan sosial yang tinggi mengoptimalisai peran mahasiswa sebagal agent of social change” diharapkan mampu mengantarkan peran mahasiswa untuk merealisasikan jati diri sebagai agen perubahan lingkungan.


          Apabila masyarakat Sragen mempunyai kepekaan sosial dan kepekaan kasih sayang yang tinggi, bisa dipastikan tidak ada warga yang hidup dibawah garis kemiskinan di Sragen. Sumbangan dari warga yang mampu akan sangat berarti bagi warga lain yang membutuhkan. Kegiatan Bakti Sosial ini merupakan salah satu bukti bahwa kepeloporan gerakan kepekaan sosial dan kasih sayang yang dilakukan oleh Sivitas akademi Politeknik Unggulan Sragen serta pihak-pihak yang terkait, agar dapat membantu masyarakat kurang mampu khususnya di Kabupaten Sragen. Kepekaan sosial dan kepekaan kasih sayang bisa diwujudkan dalam bentuk sumbangan ke Badan Amal Zakat, pengumpulan jimpitan heras, maupun lembaga sosial lainnya termasuk dalam kegiatan Bakti Sosial Yapenas 2009 ini. Apabila semua masyarakat mampu mau memberikan bantuan kepada yang kurang mampu dipastikan tidak akan ada masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Bakti Sosial ini merupakan gerakan untuk menggugah mahasiswa dan masyarakat agar peduli kepada sesama warga kurang mampu, dengan menyumbangkan berupa materi, bahan kebutuhan pokok, pakaian pantas pakai dll, sumbangan yang dikumpulkan secara sukarela ini, dibagikan kepada warga Sragen yang kurang mampu dan tanpa paksaan dari pihak manapun.


           Dewasa ini pendidikan hanya dimaknai untuk mencari pekerjaan belaka, apalagi demi status sosial, Sekalan dengan hal tersebut maka Senat Mahasiswa Politeknik Unggulan Sragen berupaya untuk menggugah rasa kepedulian dan kepekaan sosial terhadap sesama, dengan memberikan stimulus yang berupa Bakti Sosial Yapenas tahun 2009. Baksos ini bekerja sama dengan berbagai pihak yang terkait di Kab. Sragen. Kegiatan ini mampu menyalurkan sebanyak 150 paket sembako kepada 150 KK miskin di desa Ngrombo, Kecamatan Tangen, setiap paket berisi 3 kg beras dan 5 buji mie instan serta 50 buku Iqro’ yang disumbangkan kepada panitia masjid setempat.


            Rombongan dari kampus Yapenas membawa 30 mahasiswa/siswi yang diterima di pendopo Desa Ngrombo, kec. Tangen. Acara dibuka oleh kepala desa setempat Kristina Indriastuti dilanjutkan sambutan ketua senat mahasiswa dan pengarahan dari Camat Tangen yang dilanjutkan penyerahan bantuan kepada warga yang telah membawa kupon.(teguhpramono_yapenas)

    [ PDE_Yapenas ]


    [ 06/06/2007, 15:15 WIB ]
    PATILASAN MANGKUBUMI - PENINGGALAN SEJARAH DI SRAGEN

    Sragen masih menyimpan sangat banyak peninggalan sejarah, seperti yang terdapat di Kecamatan Tangen yang berjumlah tiga tempat. Diharapkan peninggalan sejarah tersebut dapat dikembangkan sebagai Obyek Wisata dan dilestarikan menjadi cagar budaya.



    [ PDE ]


     

     
     
     

    Powered by Team PDE Sragen © 2003, untuk sragenkab.go.id
    Situs ini akan lebih maksimal berjalan pada resolusi 1024 x 768 dan dengan Browser IE 5+