Thu, 9 September 2010
    
 
 
  Untitled Document
CARI BERITA

Masukkan kata :

ARSIP BERITA

  • September, 2010
  • Agustus, 2010
  • Juli, 2010
  • Juni, 2010
  • Mei, 2010
  • April, 2010
  • Maret, 2010
  • Februari, 2010
  • Januari, 2010
  • Desember, 2009
  • November, 2009
  • Oktober, 2009

  • TOPIK BERITA

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Iptek
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Hiburan

  • BERITA DAERAH

  • Sragen
  • Karangmalang
  • Masaran
  • Kedawung
  • Sidoharjo
  • Gondang
  • Sambungmacan
  • Sambirejo
  • Ngrampal
  • Sumberlawang
  • Gemolong
  • Miri
  • Kalijambe
  • Plupuh
  • Tanon
  • Mondokan
  • Tangen
  • Gesi
  • Sukodono
  • Jenar


  • Disponsori oleh :




     


    Berita Gondang


    [ 18/02/2010, 12:17 WIB ]
    Batu Bata Merah Srimulyo Gondang : KECIL-KECIL BANDEL

           GONDANG - Ribuan bata mentah tertata rapi di hamparan pekarangan rumah. Seorang perempuan setengah baya tampak tengah menunggu waktu, siap untuk membalik satu per satu bata merah setengah kering, hasil cetakan kemarin. Di samping rumah tampak suaminya sedang mengolah tanah liat untuk siap mencetak kembali. Meski terik mentari panas memanggang punggung, tak ada raut gusar di wajahnya. Panas matahari inilah yang membuat pundi-pundi rupiahnya tetap terisi. Oh, rupanya mereka baru saja mendapat pesanan batu bata merah 10.000 buah. Keadaan ini bukan saja terlihat di satu rumah, tercatat 935 KK di Kebayanan Asri, Srimulyo, Gondang, Sragen bermatapencaharian sebagai pengrajin batu bata merah, bahkan bila dijumlah dengan pengrajin di luar kebayanan Asri dapat mencapai 1200 KK.


           Batu bata merupakan salah satu bahan material sebagai bahan pembuat dinding, terbuat dari tanah liat yang dibakar sampai berwarna kemerah-merahan. Meskipun pada perkembangannya banyak pilihan namun secara kekuatan, arsitektur, dan keindahan, batu bata merah tetap pilihan.


    Modal yang Sulit 


           Gimanto, Modin desa Srimulyo yang kebetulan juga seorang pengepul batu bata, menceritakan senang dan susahnya menjadi pengepul batu bata merah di desanya. Mulai dari memodali para pengrajin hingga memasarkan hasil batu bata yang sudah jadi, belum lagi memikirkan karakteristik musim kemarau dan musim penghujan yang menghasilkan jumlah produksi yang berbeda-beda.


           ”Satu pengrajin dengan dua tenaga kerja normalnya dapat menghasilkan 8.000 buah batu bata per bulannya, dengan harga jual mulai Rp. 270.000 untuk kualitas nomor satu, sedangkan harga bahan baku tanah liat yaitu Rp. 50.000 per rit (truk dam) yang menghasilkan sekitar 2000 buah bata, ditambah lagi harga sekam yang semakin melambung” terang Gimanto. Bila dihitung-hitung secara kalkulatif memang para pengrajin tidak mendapatkan untung yang besar hanya sekitar Rp. 20.000 perhari atau Rp. 600.000 perbulan, itu pun bila dikerjakan sendiri, sehingga per KK dengan dua anggota dan dikerjakan sendiri akan mendapat penghasilan 1,2 juta per bulan. Gimanto pun mengungkapkan kesulitan dalam pemasaran apalagi kini banyak bersaing dengan produk lain pengganti bata.


           Untuk pembuatannya, di desa Srimulyo memang dulu pernah mendapat bantuan mesin pencetak batu bata, namun karena kualitas yang dihasilkan kurang bagus, maka kini kebanyakan seluruh proses pembuatannya kembali dengan cara tradisional yang ilmunya telah turun-temurun dari tahun 1970-an yaitu menggunakan tenaga manusia.


           Bahan dasar batu bata sendiri sangat menentukan kualitas batu bata, namun untungnya sampai saat ini tak ada kendala mendapatkan bahan baku batu bata, para petani sawah dengan senang hati menjual lapisan teratas tanah sawahnya untuk mengurangi ketinggian, hingga memudahkan air mengalir ke lahan tersebut.


           Proses pembuatan batu bata relatif sederhana. Lempung yang masih keras dicampur dengan abu sisa pembakaran bata, dengan perbandingan 3:1. Lalu, disiram air secukupnya. Setelah melunak, diaduk dengan cangkul, lalu dimasukkan ke dalam mesin penggiling. Lempung yang telah lembut itu segera dicetak secara manual, dan ditata di atas tanah untuk dijemur. Setelah bata mentah cukup keras, sisi-sisi bata dirapikan. Selanjutnya, serahkan saja pada teriknya matahari, untuk menuntaskan proses pengeringan hingga siap dibakar. Di musim kemarau, bata betul-betul kering dalam waktu tujuh hari. Sedangkan pada musim hujan, setelah 10-15 hari bata mentah baru siap dibakar.

    [ PDE ]


    [ 17/02/2010, 13:13 WIB ]
    SRIMULYO GONDANG LAUNCHING POSYANDU LANSIA

           GONDANG - Posyandu ternyata bukan cuma untuk balita saja, tetapi sekarang pun ada Posyandu Lansia. Memang bukan pertama kali kita temui, namun hal ini perlu kita kembangkan. Di Desa Srimulyo Kecamatan Gondang, hari ini, Rabu (17/2) diresmikan kelompok Posyandu lansia Ngudi Waras yang beranggotakan 116 lansia.


           Kades Srimulyo, Warseno, menyampaikan manfaat yang akan diperoleh dari pelaksanaan posyandu ini, selain dapat memantau kesehatan para lansia di desa tersebut juga bisa memberikan semangat berupa pengertian-pengertian dan wawasan yang bermanfaat serta untuk memberi kesempatan hidup lebih lama dan lebih bahagia serta ceria, bagaimana pun lansia merupakan kurun usia yang sudah barang tentu tidak berproduksi lagi namun sebagai generasi yang telah banyak berhutang jasa kita tetap harus menghormati dan menjunjung tinggi jasa-jasanya.


           Kegiatan yang dilaksanakan setiap tanggal 17 di rumah bidan Suwarsini, Amd, Keb. yang akan dibantu oleh bidan Fia Ratna Hariyanti berupa penimbangan berat badan, tensi darah, pengecekan umum panca indera, serta pengobatan bila diperlukan.


           Melalui kegiatan ini diharapkan keadaan tubuh yang sudah semakin renta tetap terjaga staminanya sehingga tidak terkenan penyakit yang bermacam-macam dan tetap ceria di usia tua. Dengan memperhatikan ketiga hal tersebut maka makanan yang disediakan sedikit namun tetap memenuhi kebutuhan gizi, olah raga ringan untuk mendorong agar tubuh tetap bergerak sehingga organ didalamnya tetap berfungsi baik dan penimbangan untuk memantau perkembangan berat yang stabil.(ds.srimulyo_fa_pj_pde)

    [ PDE ]


    [ 18/09/2007, 11:36 WIB ]
    SAFARI RAMADHAN KEC. GONDANG : PUASA MEMBENTUK MANUSIA MEMILIKI KASIH SAYANG TINGGI

    GONDANG-Puasa Ramadhan yang dikerjakan dengan ikhlas dan penuh kesungguhan akan melahirkan manusia yang memiliki rasa kasih sayang sejati. Puasa juga bisa mengasah rasa kepekaan sosial seseorang sehingga selalu peduli dengan penderitaan sesama. Bupati Sragen H. Untung Wiyono mengatakan hal tersebut saat melakukan Safari Ramadhan Subuh Keliling (Suling) di Masjid At-Taqwa Desa Tunggul, Kecamatan Gondang, Selasa (18/9).


    Bupati mengingatkan, saat ini rasa kasih sayang antar sesama manusia di Indonesia dalam kondisi sangat memprihatinkan. Orang begitu tega mencelakakan orang lain, atau senangnya mengungkap kejelekan orang lain. Kalau hal ini dibiarkan, akan merusak sendi-sendi kehidupan umat manusia.”Karena itu momentum Ramadhan sangat efektif untuk memperbaiki diri agar menjadi manusia taqwa, yang salah satu cirinya adalah memiliki rasa kasih sayang tinggi dengan sesamanya”, pesan Bupati.
    [ PDE ]


    [ 21/03/2006, 08:20 WIB ]
    Jarpuk se-Jawa akan digelar di Kecamatan Gondang Sragen

    [ ]


     

     
     
     

    Powered by Team PDE Sragen © 2003, untuk sragenkab.go.id
    Situs ini akan lebih maksimal berjalan pada resolusi 1024 x 768 dan dengan Browser IE 5+