Mon, 20 May 2013
    
 
 
  Untitled Document
CARI BERITA

Masukkan kata :

ARSIP BERITA

  • Mei, 2013
  • April, 2013
  • Maret, 2013
  • Februari, 2013
  • Januari, 2013
  • Desember, 2012
  • November, 2012
  • Oktober, 2012
  • September, 2012
  • Agustus, 2012
  • Juli, 2012
  • Juni, 2012

  • TOPIK BERITA

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Iptek
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Hiburan

  • BERITA DAERAH

  • Sragen
  • Karangmalang
  • Masaran
  • Kedawung
  • Sidoharjo
  • Gondang
  • Sambungmacan
  • Sambirejo
  • Ngrampal
  • Sumberlawang
  • Gemolong
  • Miri
  • Kalijambe
  • Plupuh
  • Tanon
  • Mondokan
  • Tangen
  • Gesi
  • Sukodono
  • Jenar


  • Disponsori oleh :




     


    Berita Ngrampal


    [ 15/05/2013, 09:27 WIB ]
    SANDAL BANDOL DARI NGRAMPAL

            NGRAMPAL - Tidak semua barang bekas adalah barang yang tidak
    bermanfaat lagi. Akan tetapi bagaimana barang bekas itu mampu kita kelola
    sehingga mempunyai sebuah nilai dan faedah yang lebih. Bahkan jika kita sedikit
    kreatif barang bekas itu kemudian akan menjadi sebuah ladang bisnis yang
    menguntungkan.



           Di Kecamatan Ngrampal terdapat pengrajin sandal atau penjual
    sandal. Sandal buatan warga ini dikenal dengan nama sandal bandol atau sandal ban
    bodol (ban bekas). Diberi nama seperti itu karena bahan dasar sandal terbuat
    dari limbah ban bekas kendaraan seperti truk atau bus.



           Ban bekas kendaraan sudah lama dimanfaatkan oleh pengrajin untuk digunakan
    sebagai bahan membuat sandal. Namun, seiring perkembangannya ban bekas tidaklah
    lagi digunakan sebagai bahan utama pembuat sandal tapi digunakan sebagai alas
    sandal. Sedangkan bagian atas sandal kini terbuat dari spon.



           Kerajinan Ban bekas ini daya tahannya bisa mencapai puluhan tahun, Malah yang
    kalah daya tahan karena karat justru pakunya. Selama itu, paku yang lebih
    banyak diganti sedangkan ban bekasnya masih tampak utuh.
    Sayangnya, belum banyak yang mau mengembangkan kerajinan yang bisa dibilang
    bahan bakunya tidak akan pernah habis serta mudah didapat dan murah ini. Nilai
    ekonomis yang cukup menjanjikan dari kerajinan ini bisa dilihat dari harga
    produknya yang cukup baik.



            Pengrajin sandal bandol dalam sehari, dapat menghasilkan
    5-10 kodi, satu kodi berisi 20 pasang. Harganya cukup murah, di tingkat penjual
    eceran harga sepasang sandal bandol dipatok sekitar Rp 15.000, sedangkan harga
    dari pengrajin Rp 10.000.



           Ban bekas bisa didapatkan dengan harga yang cukup murah. Ban bekas fuso sebagai
    bahan yang terbilang paling besar dan mahal hanya dibeli dengan harga sekitar
    Rp 20 ribu per buah. Ban bekas mobil biasa, harganya hanya Rp 1.000. Bahkan
    tidak jarang ban bekas didapatkan secara gratis seperti ban sepeda motor.



           Membuat kerajinan dengan ban bekas bukanlah hal mudah
    mengingat pengolahannya yang cukup rumit. “Gampang-gampang susah,” Dibutuhkan
    keahlian khusus untuk mengolahnya, mulai dari mengupas pelapis luar ban,
    melipat, membalik hingga proses memaku saat pembuatan. Tidak sembarang orang
    bisa memaku setiap sambungan ban bekas saat membuat kerajinan. Kawat-kawat
    kecil padat yang berada dalam ban membuatnya relatif sulit saat dipaku.
    Mengupas ban-ban bekas fuso yang terbilang besar dan berat adalah tantangan
    tersendiri buat kami, karena ban-ban tersebut cukup dikuliti menggunakan silet
    atau pisau lipat berukuran kecil.



         
    [ PDE ]


    [ 08/07/2010, 08:43 WIB ]
    WAYANG KLITIK SRAGEN : Salah Satu Budaya Indonesia yang Harus Dilestarikan

           NGRAMPAL - Di era globalisasi seperti sekarang ini, dimana semakin canggihnya teknologi serta segala sesuatunya dituntut serba cepat.Namun tidak kalah pentingnya bila kita lebih mengetahui dan lebih mengenal beraneka macam budaya yang ada di Indonesia, salah satunya wayang klitik.


           Wayang klitik (Jawa wayang klithik) adalah wayang yang terbuat dari kayu. Berbeda dengan wayang golek yang mirip dengan boneka, wayang klitik berbentuk pipih seperti wayang kulit. Repertoar (persediaan nyayian,lakon, opera yang dimiliki seseorang atau suatu kelompok seni yang siap untuk dimainkan ; daftar lagu, judul sandiwara, opera yang akan disajikan oleh pemain) cerita wayang klitik juga berbeda dengan wayang kulit. Di mana repertoar cerita wayang kulit diambil dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata, repertoar cerita wayang klitik diambil dari siklus cerita Panji dan Damarwulan.


           Wayang klitik dipakai sebagai sarana hiburan dan penerangan terhadap masyarakat. Wayang klitik timbul pada masa berkembangnya agama Islam di Jawa sekitar abad 16 - 17. Pencipta wayang klitik adalah SUNAN KUDUS. Wayang ini disebut klitik karena mengandung arti KECIL (Klitik). Wayang klitik terbuat dari kayu pipih yang dibentuk dan disungging menyerupai Wayang Kulit Purwa. Pada Wayang Klitik, cempuritnya merupakan kelanjutan dari bahan kayu pembuatan wayangnya. Wayang ini diciptakan orang pada tahun 1648.


           Pementasan Wayang Klitik juga diiringi oleh gamelan dan pesinden, tetapi tanpa menggunakan kelir sehingga penonton dapat melihat secara langsung bentuk wayang klitik, mirip pertunjukan wayang golek di tatar Sunda. Wayang klitik banyak ditemukan di kota-kota Jawa Tengah.


            Wayang ini disebut klitik, bukan saja karena kecil ukurannya, tapi dimungkinkan karena bunyi klitik yang terjadi saat masing-masing tokoh dalam wayang ini saling beradu. Bunyi benturan terdengar dari wayang yang berbahan dasar kayu ini.


           Di Kebonromo, yang merupakan salah satu desa di Kabupaten Sragen merupakan desa dimana tinggal seniman wayang klitik yang bernama Mulyanto atau lebih di kenal dengan sebutan Pak Mentong. Pak Mentong merupakan orang asli Klaten akan tetapi telah tinggal di Sragen selama 25 tahun.

    [ PDE ]


    [ 10/02/2009, 12:44 WIB ]
    Dari Pesta Siaga 2009 : JANGAN NONTON TV SAAT BELAJAR

           NGRAMPAL- Pesta Siaga Cabang tahun 2009 Gerakan Pramuka Kwartir Cabang 11-14 Sragen berlangsung di halaman SMP Negeri 2 Ngrampal, Selasa (10/2). Sebanyak 400 Pramuka Siaga putra dan putri dari 20 kecamatan ambil bagian dalam ajang adu ketangkasan dan keterampilan yang diselenggarakan setiap tahun ini. Pesta Siaga kali ini dibuka secara resmi oleh Anggota Mabicab Sragen Kak Suparmi Wiyono.


           Dalam kesempatan tersebut, Kak Suparmi berpesan kepada para Pramuka Siaga agar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Sebagai calon pemimpin masa depan, mereka harus mempersiapkan diri sejak sekarang. ” Jangan nonton tv saat belajar,” tegas Kak Suparmi. Kotak elektronik ini akan mengganggu konsentrasi mereka, jika dinyalakan pada saat jam belajar. Akibatnya, apa yang dipelajari tidak sepenuhnya dapat dipahami hingga berpengaruh pada prestasi mereka di sekolah.


            Lebih lanjut, Kak Suparmi juga berpesan agar para Pramuka cilik ini memanfaatkan waktu dengan baik untuk mencari bekal sebagai generasi penerus yang berguna bagi nusa dan bangsa.


           Pesta Siaga ini diwarnai atraksi drumband SD Pilangsari II dan Tari Jaranan suguhan murid-murid SD Ngarum I. Pelepasan balon oleh Kak Suparmi menandai dimulainya rangkaian adu tangkas dan terampil ini.


           Seperti diberitakan sebelumnya, Pesta Siaga tingkat Kwarcab ini merupakan ajang kompetisi berjenjang. Para peserta adalah kampiun di tingkat kecamatan. Masing-masing kecamatan mengirimkan satu barung putra dan satu barung putri terbaik mereka. Juara tingkat kabupaten akan menjadi duta Sragen untuk berlaga di Kwartir Daerah (kwarda) atau tingkat Provinsi. Puncaknya, Pramuka Siaga terbaik dari setiap Kwarda, akan bertemu di tingkat Kwartir Nasional (kwarnas). (peppy)

    [ humas ]


    [ 12/12/2007, 07:28 WIB ]
    INDAHNYA KEGOTONG ROYONGAN

    NGRAMPAL - Tidak seperti biasanya, rumah Ngadimin di dusun Siwalan RT 20 Desa Bandung Sugo Kecamatan Ngrampal, hari ini Senin (10/12) kelihatan ramai. Tampak pula hadir dalam kerumunan orang tersebut, Camat Ngrampal, Bambang Widyatmoko, Kasdim, Mayor Sutrisno, Danramil Sambungmacan, Kapten Inf Joko Susilo, dan Kapolsek Ngrampal, AKP. Agus Taruna.


    Rupanya, Muspika beserta warga masyarakat yang berkumpul tersebut akan mengadakan bedah rumah milik ngadimin warga setempat. Menurut Camat Ngrampal, Bambang Widyatmoko rumah duda beranak tiga ini dinilai sangat tidak layak huni. Selain rumah Ngadimin berukuran sangat kecil, lantainya pun masih berupa tanah, berdinding gedhek, dan atapnya banyak yang bocor. Lurah desa Siwalan, Sukarno Baskoro menambahkan, air hujan sering membanjiri lantai tanahnya karena permukaan nya sangat rendah.
    Menimbang hal tersebut, beberapa waktu lalu Muspika berinisiatif untuk membantu merombak rumah ngadimin. Bak gayung bersambut, warga masyarakat sangat merespon ajakan Muspika untuk membantu membedah rumah Ngadimin. Dana dari masyarakat dapat terkumpul kurang lebih 5 juta rupiah. Muspika membantu semen, pasir, besi, batu bata, kurang lebih senilai 2,5 juta rupiah.


    Tenaga kerja dilakukan secara gotong royong oleh warga masyarakat sejumlah 300 orang dibantu 10 personil anggota Koramil, 10 anggota Polsek Ngrampal dan 10 orang PNS Kecamatan Ngrampal. “Tapi masih dibantu dengan dengan inti sebanyak 4 orang tukang batu dan kayu” kata Bambang Widyatmoko.
    [ PDE ]


    [ 01/10/2007, 10:05 WIB ]
    Safari Ramadhan Putaran ke 14 Ngrampal : APARATUR PEMERINTAH HARUS DEKAT DENGAN MASYARAKAT

    NGRAMPAL-Desa Bener Kecamatan Ngrampal, Sabtu
    (29/9) mendapat giliran sebagai lokasi Safari
    Ramadhan 1428 H Ashar Keliling Kabupaten Sragen.
    Siang yang panas menyengat tidak menjadi kendala
    bagi Tim Safari Ramadhan yang dipimpin oleh
    Bupati Sragen Untung Wiyono, untuk bersilaturahmi
    dengan warga.


    Sarling hari ini diawali dengan berkeliling
    desa untuk bersilaturahmi dengan warga Desa Bener.
    Warga menyambut tim Sarling dengan sangat
    antusias sekali. Salah satunya Sainem warga dukuh
    Blantikan Plok sepur yang beruntung, karena
    mendapat kunjungan t im Safari Ramadhan. Rumah
    Sainem beberapa waktu yang lalu mendapatkan
    bantuan dana untuk bedah rumah dari Bupati Sragen.
    Saat Bupati beserta tim mengunjungi rumah Sainem,
    pengerjaan bedah rumah sedang dilaksanakan.


    Kegiatan bedah rumah ini merupakan salah
    satu upaya mendorong masyarakat untuk bergotong
    royong. Pemerintah menyediakan dana untuk bedah
    rumah, sedangkan tenaga untuk pelaksanaan
    pembangunan rumah dilakukan secara gotong royong
    dari warga setempat.


    Peninjauan lapangan dilanjutkan ke sebuah
    embung. Bupati sempat terkejut saat melihat dinding
    pintu air pada embung tersebut. Pada dinding itu
    tertulis tahun pembuatan 1940, berarti embung ini
    tinggalan pemerintahan Belanda. Bupati
    mengingatkan kembali kepada warga dan tim safari
    Ramadhan, pada tahun itu saja (1940) pemerintah
    Belanda sudah bisa membangun embung dan saat ini
    sebagian bangunan tersebut masih kokoh berdiri.
    Belajar dari hal tersebut Bupati mengajak agar
    pembangunan embung ­embung sepert i ini dapat
    dilaksanakan, sehingga tidak terjadi kekeringan bila musim kemarau tiba.



    Sambutan warga, saat Bupati dan Tim bersilaturahmi tampak begitu hangat.
    Bupati Sragen sempat merangkul mbah Harjo salah satu warga desa yang sudah berusia
    lanjut. Tampak mata mbah Harjo berkaca ­kaca sambil tersenyum.Mungkin tak pernah
    terbayangkan dalam benaknya, dapat bertemu langsung dengan seorang Bupati yang
    sangat merakyat “Senang sekali saya bisa bersalaman dengan Bupati ” kata mbah harjo. [ PDE ]


    [ 19/04/2007, 11:23 WIB ]
    KEMANUNGGALAN TNI DAN RAKYAT SEBAGAI PENANGKAL BERBAGAI ANCAMAN TERHADAP BANGSA DAN NEGARA

    [ Nuryahman/Renata ]


    [ 04/04/2006, 11:31 WIB ]
    Satu lagi RS berdiri di Sragen RSIA ’RESTU IBU’ SIAP BERIKAN PELAYANAN TERBAIK

           NGRAMPAL - Satu lagi fasilitas kesehatan berdiri di Sragen. Rumah Sakit ibu dan Anak (RSIA) Restu Ibu, yang terletak di Bendungan, Pilangsari, Ngrampal Sragen kemarin (Rabu, 29/3) diresmikan oleh Bupati Sragen H Untung Wiyono.


           Satu lagi fasilitas kesehatan berdiri di Sragen. Rumah Sakit ibu dan Anak (RSIA) Restu Ibu, yang terletak di Bendungan, Pilangsari, Ngrampal Sragen kemarin (Rabu, 29/3) diresmikan oleh Bupati Sragen H Untung Wiyono.RSIA pimpinan dr. Rusbandi, Sp.Og itu berdiri megah dengan fasilitas pendukung pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak meliputi pelayanan rawat jalan, rawat inap, dan pelayanan 24 jam.


           Untuk memberikan pelayanan terbaik bagi warga masyarakat, RSIA Restu Ibu didukung 2 orang dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan, 2 orang dokter spesialis anak, 2 orang dokter spesialis anestesi, dan 5 orang dokter umum. Selain itu juga RSIA Restu Ibu memiliki 17 orang bidan dan 4 perawat terlatih, ahli gizi, apoteker, dan konsultan akuntansi. Direktur RSIS Restu Ibu, Dr Rusbandi Sp. OG dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas dukungan Bupati Sragen Untung Wiyono dalam proses pendirian RSIA yang memiliki motto ”Kesembuhan Anda Adalah Kepuasan Kami” itu. Dengan demikian pihaknya dapat mengembangkan bentuk pelayanan terbaik semaksimal mungkin bagi perawatan ibu hamil dan bersalin.


           Dengan fasilitas Unit Gawat Darurat, koperasi kebutuhan persalinan, mushola, ambulans, ruang tindakan yang representatif, serta ruang rawat inap yang nyaman, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasien. Keberadaan RSIA Restu Ibu, menurut Rusbandi, juga merupakan bentuk partisipasi untuk menurunkan tingkat kematian ibu dan bayi.


           Bupati Sragen H Untung Wiyono menyambut positif pendirian RSIA Restu Ibu. Menurutnya, kehadiran RSIA ini makin menambah pilihan bagi warga masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Sehingga akan menimbulkan semangat kompetisi yang sehat, serta berlomba-lomba dalam menyajikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. ” Dengan semakin banyaknya fasilitas kesehatan di kab. Sragen, masyarakat akan makin diuntungkan, karena semakin banyak pilihan untuk bagi mereka yang membutuhkan pelayanan kesehatan ” tandas Bupati. Bupati percaya, secara jasmaniah, pasien – ibu dan bayi- yang dirawat di RSIA Restu Ibu, dapat ditangani dengan baik.


           Dengan dukungan fasilitas, sarana dan prasarana yang memadai, setiap pasien pasti akan tertangani dengan baik. Namun dibalik itu, Bupati juga menghimbau, agar RSIA Restu Ibu mengupayakan ”vaksinasi rohani ”, yaitu dengan membekali generasi muda dengan ilmu agama dan spiritual sejak dini. Untuk itu pihak RSIA dapat bekerjasama dengan kantor Departemem agama. Menurut Bupati, masa depan bangsa dan negara kelak ada ditangan generasi muda. Sehingga setiap bayi yang lahir, harus sudah dibekali kesehatan jasmani dan rohani. Sehingga kelak mereka akan tumbuh menjadi generasi yang berkualitas, sehingga mampu membawa kejayaan bangsa dan negara Indonesia tercinta ini


    Sumber : Bag. Humas

    [ Peppy/Renata ]


     

     
     
     

    Powered by Team PDE Sragen © 2003, untuk sragenkab.go.id
    Situs ini akan lebih maksimal berjalan pada resolusi 1024 x 768 dan dengan Browser IE 5+